The 8th Indo EBTKE ConEx 2019: Upaya Konsisten METI Kembangkan Energi Baru Terbarukan  Demi Masa Depan yang Lebih Baik

The 8th Indo EBTKE ConEx 2019: Upaya Konsisten METI Kembangkan Energi Baru Terbarukan Demi Masa Depan yang Lebih Baik

Jakarta, 19 November 2019 – Konsistensi menjadi kata kunci bagi pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Sejak 1999 Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) giat menyuarakan pentingnya pengembangan energi terbarukan di Indonesia mengingat sumber energi fosil dari tahun ke tahun semakin menipis. Sejak 8 tahun lalu, kampanye energi terbarukan METI dilakukan melalui sebuah pameran dan konferensi bertajuk Indonesia Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Conference and Exhibition atau Indo EBTKE ConEX. Tahun ini adalah tahun ke-8 METI menggelar kegiatan rutin di bidang energi terbarukan ini.

 

Mengambil tema “Energy Transition Towards Sustainable Energy Era”, Indo EBTKE ConEX 2019 menekankan pada transisi dari energi fosil ke energi terbarukan yang lebih berkesinambungan. Indonesia sendiri memiliki banyak sumber energi terbarukan yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Secara umum, sumber-sumber energi yang dimiliki Indonesia terdiri dari energi panas bumi, air, angin, bio energi, matahari, dan laut. Dari seluruh sumber energi ini, baru sedikit saja yang sudah dimanfaatkan untuk energi nasional.

 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, Arifin Tasrif, menyatakan potensi sumber energi terbarukan di Indonesia mencapai 400 Giga Watt, sementara realisasi energi terbarukan hingga saat ini baru mencapai 32 Giga Watt atau baru sekitar 8%. METI sendiri terus mendorong upaya-upaya peningkatan pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Selain melalui gelaran Indo EBTKE ConEX, METI konsisten menjalin komunikasi dengan negara-negara yang sudah maju dalam hal pemanfaatan energi terbarukan, seperti Swedia. METI juga terus menjalin hubungan erat dengan organisasi global seperti International Renewable Energy Agency (IRENA).  

 

“METI terus bekerjasama erat dengan berbagai negara dan lembaga internasional untuk memajukan pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia. Pada pameran tahun ini, kami kembali mendapatkan dukungan dari negara-negara Nordik, seperti Swedia, Denmark, Finlandia, yang memang sudah maju dalam energi terbarukan. Dukungan mereka bisa dilihat dari hadirnya para duta besar negara Nordik pada ajang ini dan kesediaan mereka untuk saling berbagi pengetahuan dengan Indonesia,” ujar Ketua METI, Surya Darma.

 

Dukungan dari berbagai lembaga dan negara di dunia diharapkan mampu mendorong pencapaian target bauran energi yang dicanangkan sebesar 23% pada 2025 dan 30% pada 2050. Pemerintah juga telah berkomitmen untuk melaksanakan Perjanjian Paris (Paris Agreement) yang telah diratifikasi ke dalam UU No.16 Tahun 2016 dengan komitmen menurunkan emisi karbon sampai 29% pada tahun 2030.

 

Untuk merealisasikan target di atas, diperlukan upaya aktif dari seluruh pemangku kepentingan seperti pemerintah, pihak swasta, asosiasi, dan masyarakat luas. Untuk itu, pada gelaran kali ini METI juga mendorong dan mengajak masyarakat luas, termasuk generasi muda, untuk ikut peduli akan energi terbarukan. Pada tahun ini, upaya pelibatan generasi muda terlihat dari program Young Renewable Energy Innovation. Kegiatan ini menampilkan berbagai inovasi energi terbarukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

 

Beberapa inovasi yang berhasil memenangkan penghargaan dalam program ini antara lain Bio-WCO: Produksi Bio Nafta dari Limbah Minyak Jelantah Sebagai Bahan Baku Industri Petrokimia; Voluntruck: Solusi Siap Guna (Portable) untuk Daerah Terkena Dampak Bencana dengan Menggunakan Energi Terbarukan (Solar PV) sebagai Penghasil Energi Listrik; Biop-Mac (Biogas Purification Machine): Alat Pemurnian Biogas dengan Pemanfaatan Serbuk Genteng untuk Menghasilkan Biometan sebagai Renewable Energy di Indonesia; dan Aligator: Implementasi Sistem Pendingin Ikan pada Perahu Nelayan Menggunakan Penerapan Smart Renewable Energy. “Generasi muda menjadi salah satu pilar penting bagi pengembangan energi terbarukan di Indonesia karena mereka lah yang akan menjadi masa depan Indonesia,” ujar Surya Darma. Ia berharap tahun depan akan ada lebih banyak inovasi dan perguruan tinggi yang ambil bagian pada Indo EBTKE ConEX.

 

Pemahaman yang baik akan energi terbarukan di masyarakat secara luas akan mempercepat realisasi energi terbarukan. Di Swedia, setiap wilayah (municipal) memiliki satu orang “energy advisor” yang bertugas memberikan informasi mengenai manfaat energi terbarukan dan memberi contoh bagaimana masyarakat bisa berperan dalam menciptakan energi bersih. Hasilnya, saat ini nyaris semua orang di Swedia paham akan energi bersih dan sangat mendukung energi terbarukan.

 

Dukungan Legal dan Investasi

Dukungan dari masyarakat akan menjadi energi positif bagi para pengusaha energi terbarukan untuk membangun pembangkit listrik energi terbarukan di Indonesia. Di sisi lain, para pengusaha masih menanti dukungan dari pemerintah dalam hal regulasi. Salah satu regulasi yang dinilai masih menjadi tantangan adalah Peraturan Menteri ESDM No.50/2017. Para pelaku menyatakan Permen tersebut menyulitkan dalam mendapatkan pinjaman dari bank.

 

Terkait hal ini, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Ridwan Djamaluddin, menyatakan pemerintah sedang melakukan harmonisasi regulasi agar nilai keekonomian di bidang energi terbarukan bisa menarik investor. Sementara itu, Surya Darma menyatakan salah satu tujuan penyelenggaraan Indo EBTKE ConEX memang untuk menarik investor. Hadirnya berbagai proyek pembangkit listrik energi terbarukan di gelaran Indo EBTKE ConEX diharapkan bisa memberikan gambaran kepada investor mengenai perkembangan energi terbarukan di Indonesia. “Melalui pameran ini, calon investor bisa melihat proyek mana yang bisa mereka dukung,” ujar Surya.

 

Untuk mendukung investasi di bidang energi bersih, pemerintah melalui Kementerian Keuangan juga telah menerbitkan green sukuk, yaitu instrumen investasi syariah negara yang hasil penerbitannya digunakan untuk membiayai proyek-proyek lingkungan. “Ini merupakan bagian dari upaya innovative financing instrument yang dicanangkan pemerintah. Green sukuk ini merupakan yang pertama di dunia dimana underlying asset untuk green sukuk ini harus bersifat green (ramah lingkungan),” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kemenkeu RI, Suahasil Nazara.

 

Di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi, para pembicara di berbagai sesi diskusi pada Indo EBTKE ConEX 2019 umumnya memiliki sikap yang optimis terkait pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Menurut Surya Darma, energi terbarukan sudah menjadi sebuah keharusan mengingat energi fosil semakin lama akan semakin menipis dan habis. “Energi terbarukan adalah masa depan energi Indonesia. Untuk itu, kami akan terus konsisten mendukung pemerintah mewujudkan energi terbarukan demi kelangsungan energi di Indonesia,” ujar Surya. 

 

Gelaran Indo EBTKE ConEX 2019 tahun ini berhasil menarik jumlah pengunjung sebanyak 4.446 orang. Kesuksesan gelaran tahun ini didukung oleh 50 eksibitor yang menampilkan perkembangan terbaru di bidang energi terbarukan. Kegiatan konvensi pada tahun ini diikuti oleh sebanyak 683 orang dan untuk kegiatan workshop diikuti oleh 400 peserta. Pihak panitia berharap gelaran tahun depan bisa menarik lebih banyak pengunjung umum serta peserta konvensi dan workshop. 

                                                                                                                        

Informasi lebih lanjut tentang Indo EBTKE ConEx dapat diakses melalui situs www.indoebtkeconex.com.