Konferensi Musik Indonesia (KAMI) 2018 Hasilkan 12 Rencana Aksi sebagai Acuan Kerjasama Strategis  Bagi Insan Musik Tanah Air dan Pemerintah

Konferensi Musik Indonesia (KAMI) 2018 Hasilkan 12 Rencana Aksi sebagai Acuan Kerjasama Strategis Bagi Insan Musik Tanah Air dan Pemerintah

Konferensi Musik Indonesia (KAMI) 2018

Hasilkan 12 Rencana Aksi sebagai Acuan Kerjasama Strategis

Bagi Insan Musik Tanah Air dan Pemerintah

 

Ambon, 9 Maret 2018 - Konferensi Musik Indonesia (KAMI) 2018 merupakan rangkaian kegiatan konferensi, diskusi, dan festival yang melibatkan pelaku industri musik di Tanah Air dengan pemerintah. Kegiatan ini pertama kali dilaksanakan di Indonesia, dan kota Ambon dipilih sebagai lokasi pelaksanaannya. Selain di Taman Budaya, kegiatan bertempat di Tirta Kencana dan DLekker.

 

Pada hari pertama pembukaan, seluruh delegasi bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya – 3 Stanza dengan penuh hikmat. Menteri Keuangan Republik Indonesia – Sri Mulyani membuka kegiatan pada hari pertama melalui keynote speech yang menyampaikan bahwa pemerintah akan mendukung secara penuh dan terbuka untuk diskusi dengan dunia musik demi memajukan ekosistem musik Indonesia.

 

Panel konferensi pertama dengan topik ‘Memajukan Musik Sebagai Kekuatan Ekonomi Indonesia di Masa Depan’ menghasilkan beberapa poin yang diantaranya menyatakan bahwa pelaku industri musik pun harus ikut mawas mengenai pentingnya mendaftarkan hasil karya dan perlu segera mewujudkan akses dan transparansi terhadap berbagai bentuk pemanfaatan karya-karya musisi. Panel kedua, ‘Tata Kelola Industri Musik di Era Digital’, menyatakan bahwa perlu dibangun mekanisme pendataan terpadu di bidang musik sebagai landasan pengelolaan dan penegakan sistem bagi-hasil yang adil dalam ekosistem musik Indonesia. Sesi diskusi panel juga semakin menarik dengan kehadiran narasumber diantaranya Triawan Munaf selaku Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf), Ari Juliano Gema selaku Deputi V – Bekraf, Anang Hermansyah selaku Anggota Komisi X DPR RI, serta narasumber dari delegasi musisi lainnya.

 

Konferensi hari kedua dibuka oleh Menteri Komunikasi Republik Indonesia – Rudiantara, yang menyampaikan dukungannya terhadap ekosistem musik melalui infrastruktur internet yang akan dipersiapkan untuk memudahkan musisi berproduksi, berkolaborasi dan mendistribusikan karya mereka dari seluruh wilayah di Tanah Air. Selain itu, Rasio Ridho Sani selaku Direktur Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan dan Kehutanan yang mewakili Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup menjelaskan bahwa keberlangsungan musik Indonesia juga bergantung pada ekosistem lingkungan. Sebab, ekosistem lingkungan yang sehat merupakan sumber instrumen terbaik dan inspirasi bagi terciptanya karya-karya kreatif musisi Indonesia.

 

Sesi panel ‘Musik dalam Pemajuan Kebudayaan’ merangkum bahwa sistem pendataan terpadu mengenai objek pemajuan kebudayaan merupakan mandat dari Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017, musik termasuk di dalamnya. “Sekarang saatnya industri musik mengorganisir diri. KAMI 2018 harus menghasilkan rencana aksi yang dapat menjadi rekomendasi bagi program kerja pemerintah”, ujar Hilmar Farid, Direktur jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Selain itu, pada topik dengan tema ‘Musik, Diplomasi Budaya, dan Pariwisata’ menyatakan potensi musik sebagai ujung tombak diplomasi budaya harus lebih digali untuk mengangkat harkat martabat dan citra bangsa di mata dunia.

 

Panel penutup konferensi di hari ketiga membahas ‘Musik sebagai Alat Perdamaian, Pemersatu Bangsa, dan Gerakan Anti Korupsi’ yang dipandu oleh Najwa Shihab. Diskusi menajamkan pemahaman bahwa musik bukan hanya estetika dan industri tetapi juga sarana pembangun kesadaran yang kuat. Tidak hanya itu, kurikulum musik di sekolah perlu diperbaiki dan disejajarkan dengan kurikulum ilmu pengetahuan. Perlu penyebaran konten musik sebagai bagian dari budaya dari dan ke berbagai daerah di Indonesia.

 

KAMI 2018 menghasilkan rencana aksi yang menjadi rekomendasi bagi program kerja pemerintah dan berbagai organisasi dalam ekosistem musik Indonesia. Hal tersebut dituangkan dalam deklarasi yang dihasilkan dari kegiatan Bincang Musik yang difasilitasi oleh Koalisi Seni Indonesia.

Glenn Fredly selaku Ketua Komite KAMI 2018 sangat bersyukur atas terlaksananya konferensi ini, “Sejarah berulang dalam kisah yang berbeda, musik Indonesia memasuki babak baru untuk kemajuannya yang dimulai hari ini dari tanah raja-raja Ambon Maluku dalam perjalanannya ditetapkan sebagai situs kota musik dunia oleh UNESCO. Semoga pertemuan lintas bidang dalam ekosistem musik di Konferensi Musik Indonesia yang pertama ini dapat memberikan buah pikir bersama secara positif dan komprehensif demi masa depan musik Indonesia yang kita cita-citakan bersama” ujarnya pada ujung konferensi.

 

Hari Musik Nasional di Kota Ambon

 

Mengakhiri kegiatan KAMI 2018 akan dilangsungkan Festival Musik di area Lapangan Merdeka. Acara tersebut akan dimeriahkan oleh G Star Dance, Soft East Band, Amboina Bananas, Manumata RAP Crew, Andi Ayunir & 32 Biduan, Robby Navicula, Sense Session featuring Doddy Latuharhary & Maluku Hiphop Crew, Gugun Blues Shelter featuring Once Mekel, The Tropical Sound of Ivan Nestorman, Ras Muhamad, Fariz RM, Barry Likumahuwa featuring Edo Kondologit, Andre Hehanusa, Margie Siegerz, Papua Original, Yopie Latul, dan ditutup oleh penampilan dari SLANK.

 

Festival Musik tersebut merupakan puncak acara sekaligus apresiasi untuk kota Ambon sebagai City of Music, yang bertepatan dengan Hari Musik Nasional.

 

***